Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Rendra, 31 Juli 2009
Mitra Keluarga
(Sajak ini merupakan karya terakhir Rendra ketika beliau terbaring di RS Mitra Keluarga, Jakarta)
Senin, Agustus 31, 2009
Tuhan, Aku Cinta Padamu (Sajak Terakhir WS Rendra)
Diposting oleh Abizar PeA di 18.43 2 komentar
Minggu, Mei 17, 2009
Hajar
Hajar berdiri melangit ketika jari-jarinya memijit punggung telapaknya.
Ia resah. Pagi sudah sedemikian imsak.
Perutnya membuncit. Pinggangnya bergetar.
Hajar tengak-tengok kanan-kiri.
Hajar mondar-mandir sana-sini.
"Tenang, tenanglah!"
Ia tengok ke atas. Tak ada matahari.
Ismail merengek. Menendang-nendang.
"Mukjizat!!"
pndx'2009
Diposting oleh Abizar PeA di 08.34 0 komentar
Kecuali Ia
Meluncurlah matamu yang berair.
Tatkala tak ada jarak, makin rapat pula batu-batu yang sangsi.
Kalau matamu pendek itu lekat, ketahuilah!
Tak ada yang baka!
Tak ada yang ada!
Kecuali Ia.
Kembalilah, Wahai Perantau-perantau!
Menyanyilah, Wahai Pelantun-pelantun zikir!
Telah dicukupkan atas kita, tubuh kita, hati kita!
Tempuhlah jalanmu kemari...
Aku rindu..aku rindu...
Kecuali Ia.. Kecuali Ia.. Tak ada lagi ilah...
pndx'2009
Diposting oleh Abizar PeA di 08.25 0 komentar
Sabtu, April 04, 2009
Surat dari Penyair (Drama Pendek)
Naskah Drama
SURAT DARI PENYAIR
(Diilhami dari Kehidupan Chairil Anwar ‘Si Binatang Jalang’)
Tokoh:
1. Bapak
2. Ibu
3. Ida, anak Bapak dan Ibu
4. Mirna
5. Soraya
6. Suara dari Luar
***
PANGGUNG BERLATAR RUANG TAMU. MALAM. ADA MEJA DAN BEBERAPA KURSI. ADA SEMUG TEH DI ATAS MEJA YANG DI SAMPINGNYA SEBUAH RADIO LAMAT-LAMAT TERDENGAR LAGU KERONCONG. ADA SEPASANG SEPATU DAN KAIN LAP TERGELETAK DI DEPAN.
IDA MASUK SAMBIL MEMBACA SECARIK KERTAS.
Suara dari Luar:
Sayangku mesra. Dari yang satu ke yang lain, adik, selangkah demi selangkah!
Jika di perjamuan, sekarang kepala hidangan!
Tapi selembar dari buku harian tidak akan memberi kelengkapan,
Ida tentu mengerti! Jadi tertegun-tegun juga aku sebentar memikirkan tarikan-tarikan tepat jitu supaya dapat adik kesan yang penuh-pasti. Dapatkah Idaku menerka apa yang terbayang dengan terang-menyilau di mataku, ketika menuliskan baris-baris ini? Dapat? Kolonel Yamasaki, Ida!
Perwira-satria dari Attu! Aduh, terus bersatu jiwa dengan beliau ini. Penjelmaan citaku memang!
Lihatlah, manisku, dalam pengabdiannya yang meningkat setinggi-tingginya terhadap J.M.M. TENNO HEIKA, Nusa dan Bangsa, dalam perasaannya yang telah mencapai ujung dan puncak, maka kukira sebagian besar mesti terselip tenaga hidup yang hebat berkobar-kobar, sehingga diteruskannya dalam mati
Ida! Vitalisme.
Tenaga hidup! Tenaga hidup!
Mata Ida bertanya, kulihat. Kalau-kalau vitalisme ini mungkin diresapkan dalam seni? Mengapa tidak, adik. Bahkan sifat ini tidak mungkin dihilangkan atau ditiadakan.
(Ch. Anwar, Pidato Chairil Anwar 1943)
TIBA-TIBA BAPAK KELUAR. MEMAKAI PAKAIAN SEADANYA.
Bapak:
Baca apa, anak gadis? Seriusnya.
Ida:
(KAGET. MENYIMPAN KERTASNYA DI BALIK PUNGGUNG.
DUDUK DI KURSI)
Bapak:
Kenapa diam? Pasti ada yang kau pikirkan? Ceritalah!
(MENUJU KURSI, DUDUK. MENGAMBIL MUG DAN MEMINUM TEHNYA. MENGELUARKAN BUNGKUS ROKOK. MENGAMBIL SEBATANG DAN MENYULUTNYA)
Hmm.. Masih berapa lama kau akan diam?
Ida:
(BERDIRI KE DEPAN PANGGUNG. TETAP BERUSAHA MENYEMBUNYIKAN KERTAS DARI BAPAK. AGAK BINGUNG)
Bapak:
Anak itu memang luar biasa. Jago berkata-kata. Tulisannya unik dan, tentu, lain.
Tapi tetap saja dia pemuda yang aneh. Dan kurang ajar.
Ida:
(SEDIKIT TERTEGUN. TERSINGGUNG, LALU KELUAR PANGGUNG)
IBU MASUK, BERPAPASAN DENGAN IDA. IDA MENGHINDAR DAN TERUS KELUAR. IBU MENGHAMPIRI BAPAK. DUDUK DI DEKAT BAPAK.
Ibu:
Masih?
Bapak:
Seperti kemarin-kemarin.
Ibu:
Tak ada perkembangan?
Bapak:
Sama sekali.
Ibu:
Bicara?
Bapak:
Nyaris. Tapi pun juga seperti kemarin.
Ibu:
Dia tak tahu apa yang dia tunggu.
Bapak:
Tak tahu siapa. Tak tahu kapan. Tak tahu di mana pula.
Ibu:
(MENGAMBIL MUG DAN MEMINUM TEHNYA)
Bapak:
(MENYERGAH) Hei, itu teh Bapak!
Ibu:
Besok bikin pakai tanganmu!
Bapak:
(URUNG. MEMATIKAN ROKOK)
Ibu:
Kadang-kadang Ibu punya sangka Ida tertekan. Kadang pula Ida terlihat menikmatinya.
Bapak:
(BERDIRI. MENUJU SEPATU DI DEPAN PANGGUNG. MENGELAPNYA SAMBIL JONGKOK) Ini harus dipastiken. Malah harus dari dulu. Kita terlambat. Ida telanjur cinta. Tapi dia pun tak pernah omong kalau mempunyai percintaan. Ida telanjur memilih untuk menunggu.
Ibu:
(MEMATIKAN RADIO) Lalu?
MIRNA DAN SORAYA DATANG TERGESA-GESA. BAPAK DAN IBU KAGET. LAMPU MATI
Suara dari Luar:
Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah-kumamah
Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang
Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.
(Ch. Anwar, Merdeka)
LAMPU HIDUP.
Ibu:
Siapa saudari?
Mirna:
Soraya:
Mirna:
Kami dari Jakarta.
Soraya:
Kurang lebih begitu.
Mirna:
Kami orang baik-baik. Tak pernah nyolong apalagi tidur sama tuan-tuan pembesar.
Soraya:
Pernah juga hampir diperkosa.
Mirna:
Kami bukan Cina. Jawa tulen.
Soraya:
Tapi saya punya ibu orang Palembang.
Mirna:
Kami ber...(DIPOTONG OLEH BAPAK)
Bapak:
Cukup...cukup... Remaja sekarang suka yang berlebihan.
Ceritaken maksud apa kalian datang?
Ibu:
(MENYERGAH) Sebentar.. sebentar... (MENDEKATI MIRNA DAN SORAYA)
Silakan duduk dulu. Kami juga tahu tatacara menerima tamu yang baik.
MIRNA DAN SORAYA DUDUK.
Ibu:
Minum apa? Teh? Kopi? Hangat? Panas? Bagaimana dengan takaran gulanya?
Bapak:
Bu, jangan ikut berlebihan!
Mirna:
Tuak!
Soraya:
Saya bir!
Bapak:
(MENDENGAR ITU, KAGET)
Setan!!
Ibu:
(MENGERNYIT) Kami tak punya minuman semahal itu.
Mirna:
Anda bilang tuak mahal?
Ibu:
(DIAM)
Bapak:
Ibu, sudah hampir waktunya! Cepat bikinken! Air gula saja! Dua gelas!
(MENYALAKAN RADIO LAGI. MEMINUM TEH. MENYULUT ROKOK LAGI. KE DEPAN PANGGUNG, MENGAMBIL SEPATU. KEMBALI KE KURSI. MEMASANG SEPATU)
IBU KELUAR.
Bapak:
Maafken bila saya kurang punya sopan. Beberapa puluh menit lagi, saya harus berada di tempat kerja. Saya ulangi. Ceritaken maksud yang kalian punya!
Mirna:
Ida.
Bapak:
Ida siapa?
Mirna:
Ada berapa nama Ida di kampung ini?
Bapak:
Baiklah. Teruskan!
Mirna:
Anda tahu penyair itu.
Bapak:
(DIAM SAMBIL MENERUSKAN MEMASANG SEPATU)
Soraya:
Kami ada perlu dengan anak Tuan.
Bapak:
(AGAK ACUH) Ibu! Lekas kau ambil baju Bapak pula! (BERTERIAK PADA IBU DI LUAR)
Soraya:
Tuan, kami ada perlu dengan Ida.
Bapak:
Ibu, kau pilihkan yang punya warna gelap! Sepertinya aku akan berkotor-kotor hari ini.
Mirna:
Kami punya waktu sedikit.
Bapak:
(DIAM)
IBU MASUK MEMBAWA DUA GELAS AIR GULA DI NAMPAN DAN BAJU YANG TERSAMPIR DI BAHUNYA. MENDEKATI MEJA. MELETAKKAN GELAS DI SITU. MENDEKATI BAPAK. BAPAK BERDIRI. IBU MEMASANGKAN BAJU PADA BAPAK.
Mirna:
(BERDIRI) Maaf, Tuan Nyonya! Mungkin agak sedikit buruk kedatangan kami tadi. Tapi tadi juga kami telah berkata bahwasanya kami orang baik-baik dan punya maksud baik. Sudilah kiranya Tuan Nyonya beri waktu sedikit buat kami. Kami bawa kabar penting.
Soraya:
(BERDIRI) Tuan Nyonya, seperti halnya sebuah drama. Cerita kehidupan yang enak dinikmati itu yang punya masalah yang memuncak, klimaks. Tapi ini lain, Tuan Nyonya. Masalah satu belum sampai pada klimaks, sudah muncul masalah yang lain. Kami tak pernah mencapai puncak, menggantung. Sudah barang tentu kami selalu tak punya penyelesaian. Kami punya banyak harap pada Ida, anak gadis Tuan Nyonya. Ida adalah harapan penyelesaian drama tragedi kami. Terutama penyair itu.
Ibu:
Ceritakanlah!
Soraya:
Maaf, Nyonya. Hanya Ida yang boleh mendengar.
Bapak:
Kami orangtuanya! (MENGHARDIK)
Ibu:
Silakan duduk kembali (HALUS) Diminum dulu airnya.
MIRNA DAN SORAYA DUDUK. MEREKA BERTATAPAN.
SEKEJAP ITU PULA, IDA MASUK SAMBIL MASIH MEMBAWA KERTAS TADI. SERENTAK MIRNA DAN SORAYA BANGKIT BERDIRI LAGI.
Mirna & Soraya:
Ida??
MIRNA DAN SORAYA MENDEKATI IDA. IDA AGAK TAKUT.
Mirna:
Benar kau Ida?!
Soraya:
Penyair itu, Ida!
Mirna:
Gawat!
Soraya:
Ia disiksa!
Mirna:
Opsir Shimitsu!
Soraya:
Berdarah-darah!
Mirna:
Tapi masih sempat tertawa!
Soraya:
Kau harus menemuinya! Ia ingin kau datang!
Mirna:
Kau pasti juga telah tahu betapa mengerikannya ruang interogasi!
Soraya:
Ruang interogasi Jepang lebih kejam, Ida!
Mirna:
Ayo, cepatlah! Ikut kami!
IDA MENDEKATI BAPAK DAN IBU.
Ibu:
Pergilah, Nak! Jemput ia!
Bapak:
(DIAM)
Ida:
Biar dia mati saja!!
(LANGSUNG KELUAR)
YANG LAINNYA HANYA TERTEGUN, DIAM.
Bapak:
Akhirnya ia bicara juga, Bu.
Suara dari Luar:
Begini! Lihat!
Soal keindahan soal yang yang hingga kini masih dalam perbincangan sebenarnya. Bagiku keindahan, Ida, persetimbangan perpaduan dari getaran-getaran hidup. Ini tentu penerangan yang pendek-tegas saja. Tapi ada vitalitas lain. Dengan keindahan tidak ada samanya. Dari ujung ke pangkal bandingannya. Karena vitalitas adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan dalam mencapai keindahan. Dalam seni: vitalitas itu chaotisch voorstadium, keindahan kosmisch eindstadium.
Tiap seniman harus seorang perintis jalan, adik. Penuh keberanian, tenaga hidup. Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar-tak-bertepi, seniman adalah dari hidup yang melepas-bebas.
Jangan pula menceraikan diri dari penghidupan, bersendiri!
Bukan, bukan, sekali-kali bukan! Mungkin yang begini akibatnya mati sendiri, dan tak ada yang menguburkan. Hanya kemauan, inti hidup, itu yang merdeka.
(Ch. Anwar, Pidato Chairil Anwar 1943)
***Selesai?***
Yogyakarta, 21 April 2007
PNDX’2007
NB: Naskah drama ini disiapkan untuk Teater Terjal dalam acara
Peringatan Chairil Anwar oleh Mahasiswa Sastra Indonesia UGM
pada Jumat, 27 April 2007 di Fak. Ilmu Budaya UGM.
Diposting oleh Abizar PeA di 10.53 0 komentar
Sabtu, Januari 17, 2009
Robbis rohli shodrii wa yassirli amri wa ahlul u'datammil lisaani yaf qohuu qoulii...
Allahummataf 'alayya futuhal 'arifiina bi hikmatika wansyur 'alayya yaa dzal jalaali wal ikrom..
Dia datang seperti gegar kekasih yang tiba dengan tiba-tiba.
Dia datang seperti guruh perindu yang tak tahu kapan jumpa, kapan sua.
Dia datang di lubang angin, di pagi yang dingin.
Di batu mati, di hati beku.
Yaa.. Yang Maha Pemberi Kemungkinan.
Yaa.. Yang Maha Penakluk Kebosanan.
Yaa.. Yang Maha Pembagi Keriangan.
Matilah angkara murka!
Matilah dosa nestapa!
Bunuh semua yang merusak dunia!
Yaa.. Yang telah dituturkan musafir dengan nyanyian dan kerinduan.
Tentang Dia yang menggugus langit bumi pada masa yang enam.
Pemilik singgasana atas air yang gemar memberi ujian.
Yang menimpakan bencana dan tak ada yang mampu menghalangi.
Empunya ketetapan yang pasti.
Yaa.. Yang telah disebutkan dalam lembar kisah pujian dan teladan.
Tentang ciptaan yang dibentuk dalam keadaan lemah.
Golongan yang benar-benar merugi.
Yang berikrar teguh sekaligus merusaknya.
Pemilik dusta dan kebinasaan.
Dunia adalah kematian. Kehidupan nanti akan menjelang.
Allahumma yaa Allah... isra'il laknatullah!!!
Diposting oleh Abizar PeA di 18.27 1 komentar
CAT
Di atas cat yang basi tertumpah segelas api menyala-nyala secerah pagi, secerah api yang pagi, yang mati dalam anggunmu yang—kalau tidak salah—telah terbeli oleh warna-warni yang riuh dan sekejap menjadi plastik-plastik yang basah dan bau yang menusuk-nusuk, bau cat yang basi, bau pagi yang mati, dan keanggunan yang telah pergi terbeli. Padahal aku kedinginan.
Diposting oleh Abizar PeA di 18.26 0 komentar
Jumat, Desember 26, 2008
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lelara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah mring mami
Diposting oleh Abizar PeA di 11.33 0 komentar
Ke Pelabuhan
buat Afith, kawan serahim, biar dia cinta pelabuhan
“Adik, ayo ke pelabuhan!
Nelayan-nelayan sedang memanen laut kita.
Riak-riak perahunya sudah mengendap di dermaga.
Coba tajamkan hidungmu, Dik!
Amis yang sudah lama kita rindukan.
Hmm… Tongkol dan tengiri sudah merangkapi hidungku. Hidungmu jugakah?
Ayo, Adik! Nelayan tak akan menunggu siang, tak akan menunggumu.
Kita harus pegang itu ikan-ikan hasil mereka.”
“Cak, sudah susah berjubal kita menuju pelabuhan.
Jalan-jalan sudah tertutup palang tanda tak boleh masuk.
Corong-corong istighotsah sudah lebih nyaring di telinga.”
Aku diam. Adik diam. Ikan-ikan diam.
Telak suara kami dengan srempetan sandal para santri.
PNDX’2008
Diposting oleh Abizar PeA di 11.29 0 komentar
Surat
Ia menjinjing surat itu. Begitu terbimbingnya hingga tak ada satu pun bagian yang terlipat saat ia masukkan ke sakunya.
“De, ada terlalu banyak hal yang masing-masing dari kita tak dapat, bahkan tak mungkin mampu tahu. Ini bukan lagi keniscayaan..”
“Lagi-lagi keniscayaan.” sindirku memotong dialog siang itu.
Ia duduk bersila menyandar di dinding. Padahal betul-betul dingin dinding itu. Aku lebih merasa aman dengan tidak menyandar, sekaligus tidak langsung berhadapan dengannya.
“Diam dulu! Seminggu ini aku lagi gandrung dengan kata ’niscaya’. Dua minggu yang lalu, kau pun telah tahu, aku gandrung kata ’mungkin’. Seperti ada relasinya. Tapi lebih dari itu, kau menganggap dua kata itu layak disebut cermin.”
“Cermin?”
“Aduh.. Hentikan memotong omonganku! Itu kebiasaan buruk.”
Begitulah. Rawe tak suka perkataannya macet di jalan. Ia ingin sampai dulu. Baru memarkir mulutnya untuk mendengarkan mulut yang lain lewat. Ia pendengar yang baik. Dan ia juga pembicara baik, meski seringkali berlebihan. Rawe. Sesuai namanya, ia payah. Pemuda yang payah-kepayahan. Ia mudah capai. Tapi tak pernah capai bila nyerocos. Must go on. Monolognya harus terus berjalan. Bila perlu memutar bila memang agak buntu.
“Mungkin dan Niscaya sepertinya telah ditakdirkan untuk aku cintai dua minggu pertama bulan ini. Aku prediksikan minggu depan aku akan menyukai kata Tuhan.”
“Eitss… Kali ini mau nggak mau aku harus memotong.”
“Why?”
Aku diam.
“Jawab!”
“Sebentar! Aku sedang mengingat kapan terakhir kali kau menyukai kata Tuhan.”
“Februari minggu ke-4.”
“Ahh…! Itu dia! Dua bulan lalu!
“Memang! Tapi beda.”
“Kok?”
“Saat itu aku suka tuhan. Dengan t kecil.”
“Sekarang?”
“T besar!!”
“Tapi tetap kecil. Perihal ukuran kan?!”
“Bukan. Mengenai konsep. Kali ini dengan T besar. Coba berapa kali Tuhan dibesar-besarkan umat-Nya setiap harinya?”
“Sering.”
“Terlalu sering, bukan?!”
“Surat itu?”
Rawe diam. Kini dia seperti menggigil. Aneh. Rambutnya ia sepoi sedikit ke barat. Melawan arus angin. Ia gemeretakkan jari-jarinya. Suaranya cukup mengganggu. Apalagi tak lama itu dengus napasnya memanjang. Lidah itu kini berhenti. Kelunya hampir menyudut di bibirnya. Ah… Kini ia menerawang. Terawangannya tak dapat jauh. Langit atap membatasi mata sipit itu. Ia bangkit. Membetulkan kolor celana dan (sekali lagi) rambut berkondisioner itu, kali ini agak kencang. Melajulah ia ke jendela. Memandang keluar sebentar. Lalu dibikin tutup olehnya. Grendelnya mengencang. Ia tarik paksa. Berhasil!
“Deka.”
Ia memanggil namaku, sering ia begitu, tak hapal dengan nama lengkapku. Padahal aku gandrung dengan nama lengkapku.
“Ratna.”
Anjing! Ia menyebut nama itu. Sesiangan ini akan terasa panjang karena tak ada yang bisa kukerjakan, kecuali bikin dengar ocehan hatinya. Mafhumlah! Kalau ada kode kata ’ratna’ pada permulaan ia bicara, maka seolah hari bertambah dua jam tiap menitnya.
“Surat itu dari Ratna.”
“Telegram?”
“Pos. Kilat.”
“Teruskan!”
“Belum kubaca. Sama sekali. Aku tahu ini akan terjadi, tapi tak sangka akan secepat ini.”
Aku memilih diam. Ia keluarkan surat itu. Lebih hati-hati daripada masuknya.
“Belum kau buka?”
“Belum.”
“Bodoh!”
Rawe diam.
“Siapa yang memberikannya padamu?
Rawe diam, tapi aku tahu jawabnya.
Rawe menarik panjang dadanya, napasnya, dan beberapa persendian kaki-tangannya.
“Tadi pagi aku menerimanya. Dan, tentu, tiba-tiba pagi tak pagi lagi. Kenapa sekian lama?!”
”Maaf... Aku potong... Buka saja dulu! Baca! Jangan menduga-duga! Tak baik.”
Matanya menyergap ke mataku. Lalu sekilat-kejap menuju ke surat itu. Kini tangannya yang bekerja. Cuih! Gesit amat tangan itu. Dan....
”Surat kosong?! Ratna bersenda denganmu.”
”Bukan!” Ia menyalak padaku. Matanya meruncing. ”Ini pertanda tak ada lagi diriku di matanya.”
Sore ini terasa begitu terkesiap. Matahari tenggelam.
Diposting oleh Abizar PeA di 11.26 0 komentar
Minggu, Desember 07, 2008
Rhe, Kau Kalah!
Kau sudah kalah, Rhe...
Bila kau merasa telah hampir kalah...
Camkan!!!
Diposting oleh Abizar PeA di 14.46 0 komentar
